Detail Hitam Putih Fotografi

26Jun11

Sebuah foto dapat menceritakan banyak hal, sebuah ungkapan yang tidak dapat dijabarkan hanya dengan beberapa untaian kata dalam sepenggal kalimat. Makna yang dikandung sebuah foto terkadang sama sekali tidak dapat dijabarkan dengan penjelasan kata, memuat kenangan-kenangan akan peristiwa yang secara komprehensif terukir di dalam benak dan mungkin selamanya akan tinggal di dalam benak yang menjadi subyek fotografi tersebut. Hal inilah yang mendasari keunggulan sebuah foto dan seni fotografi.

hitam putih fotografi

hitam putih fotografi

Sebuah foto akan selalu bercerita tentang dua hal yang menjadi elemen lahirnya foto tersebut, hal pertama sudah jelas sebuah foto akan menampilkan subyek yang menjadi obyek dari foto tersebut, merekam sebuah aktifitas dalam kotak detik ruang waktu, menjadikannya abadi sebagai memori yang dapat dikenang dikemudian hari. Hal yang kedua sebuah foto akan juga mencerminkan kualitas sang fotografer, obyek foto sebagai bentukan kreatifitas sang fotografer menjadi sebuah sarana mediasi seni, dimana sebuah kejeniusan diperlukan untuk menangkap dan mengabadikan momen waktu yang menjadi obyek dari foto tersebut. Kombinasi dari dua hal ini, subyek fotografi dan fotografer secara harfiah dapat kita tafsirkan sebagai pembentuk identitas sebuah foto, dimana cita rasa seorang fotografer yang akan selalu dominan hadir bersama obyek fotografinya. Bagaimana seorang fotografer mentransformasikan subyek fotografinya menjadi fotogenik dan “lookable” dalam bingkai seni fotografi menjadi bukti dari kejeniusan sang fotografer itu sendiri.

Bila melihat kembali jauh kebelakang, kita akan menemukan awal fotografi dalam dunia yang hitam dan putih. Keterbatasan teknologi lensa dalam “memenjarakan” obyek fotografi melahirkan foto-foto hanya dalam warna hitam dan warna putih, dan seiring perjalanan waktu dimana perkembangan teknologi telah membawa banyak warna-warni baru dalam seni fotografi. Dalam era kebebasan warna ini, dunia fotografi menjadi lebih rumit dan futuristik, dimana sebuah foto tidak lagi hanya memuat subyek foto tersebut, tetapi menjadi lebih luas mencakup kombinasi warna dan representasi obyek yang digunakan subyek dalam fotografi tersebut. Bila dahulu hanya terpaku kepada subyek dalam balutan warna hitam atau putih, maka sekarang menjadi lebih kompleks tentang bagaimana merepresentasikan subyek tersebut dalam balutan aneka warna, sebuah subyek tidak lagi hanya dinilai dari identitas subyek tersebut, tapi juga dari balutan warna yang menutupi sang subyek foto tersebut. Hal ini menuntut tingkat kejeniusan yang lebih jauh dari sang fotografer, mampukah mentransformasikan subyek menjadi artistik dalam variasi kombinasi warna-warni yang membalutnya tanpa kehilangan makna hakiki yang diharapkan dari keberadaan foto tersebut.

unconventional wedding photographs

unconventional wedding photographs

Kehadiran warna-warna baru ini tentu saja membawa juga tantangan-tantangan baru ke dalam dunia seni fotografi, membawa banyak nilai-nilai baru yang tentu saja memperkaya cita rasa sebuah foto. Namun kehadiran warna-warna baru ini tidak bisa begitu saja menghapus kerinduan akan fotografi yang masih hitam dan putih, fotografi hitam dan putih tetaplah eksis, karena keunggulannya dalam konsentrasi yang terfokus hanya kepada subyek fotografi.

Fotografi pernikahan juga berkembang searah dengan perkembangan dunia fotografi. Kebutuhan akan sebuah media pengabadian dari sebuah kenangan yang ingin dikenang hingga akhir hayat membawa fotografi ke ranah keemasannya, tidak bisa kita pungkiri setiap yang terlibat dalam rutinitas sebuah pernikahan menginginkan adanya pertinggal dalam bentuk foto, walaupun hanya sebuah foto yang diambil dengan peralatan dan kualitas seadaanya seperti kamera ponsel. Kebutuhan ini memaksa dunia fotografi untuk bergerak lebih jauh, menantang tiap fotografer untuk dapat melahirkan sebuah foto dengan cita rasa yang ekslusif dan spesifik, hingga lahirlah istilah yang umum digunakan dalam fotografi pernikahan yaitu candid fotografi. Walau berkembang sedemikian jauhnya, fotografi pernikahan tetap menuntut kenikmatan dari cita rasa fotografi hitam putih, tak terbantahkan bahwa selamanya dunia fotografi tidak akan pernah terlepas dari belenggu fotografi hitam dan putih.

Fotografi pernikahan juga menuntut tiap fotografer untuk lebih sensitip dan imajinatif dalam mengabadikan detik-detik paling krusial dalam momen yang begitu penting maknanya bagi pasangan dan keluarga yang melangsungkan pernikahan. Fotografer dituntut untuk bisa merekam sisi-sisi paling romantik, sudut-sudut paling humanis dan bayang-bayang paling syahdu dari sebuah prosesi yang dikultuskan menjadi salah satu momentum penting dalam perjalan sebuah kehidupan. Hal ini melahirkan pemilahan terhadap fotografer sehingga muncullah apa yang disebut dengan fotografer dengan spesialisasi pernikahan, fotografer ini tidak bisa digeneralisasikan sama begitu saja dengan fotografer-fotografer lainnya, selain perbedaan obyek yang direkam juga tuntutan akan intuisi imajinasi sang fotografer untuk bisa melahirkan sederet foto dengan cita rasa khas pernikahan. Kualifikasi dari sang fotografer menjadi hal penting, kualitas sang fotografer akan tercermin dalam fotografi hasil jepretannya, kualifikasi dan kualitas ini tidaklah sebanding dengan jumlah “shoot” yang diambil atau banyaknya rol film yang dibuang, tidaklah sebanding dengan jumlah waktu yang disia-siakan sang fotografer bersama obyek fotografinya, ibarat “magic” kesempurnaan foto yang dihasilkan adalah murni hasil kreatifitas dan keberuntungan sang fotografer.

sekedar foto grafis

sekedar foto grafis

Bila dilihat dari emosionalitas momen yang akan direkam, selubung gender juga akan memenuhi ruang fotografi. Fotografer wanita dan fotografer pria juga memiliki sisi egoistik tersendiri dalam menghasilkan sebuah retorika seni fotografi pernikahan. Tidak bisa kita pungkiri wanita dan pria memiliki sisi emosionalitas tersendiri tentang bagaimana mencerna momen-momen dalam perspektif pernikahan. Tiap gender akan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka kecerdasan tiap subyek fotografi untuk bisa mengkombinasikan hal ini sehingga momen-momen yang akan dilalui sang subyek bisa direkam secara maksimal. Menegasikan pebedaan gender ini bukan dalam sisi negatip, melainkan sebagai usaha untuk mendapatkan hasil fotografi yang maksimal dari sebuah momen pernikahan.

Tumbuhnya rumah-rumah produksi fotografi, yang tidak lebih dari kotak-kotak pembatas ruang seni fotografi juga mempunyai nilai positipnya tersendiri, tetapi mempercayai kualitas sebuah rumah produksi fotografi tidaklah sama dengan mempercayai kualitas seorang fotografer, rumah produksi fotografi walaupun melabelkan dirinya atas sebuah nama fotografer tetaplah gabungan dari sekumpulan fotografer, tiada jaminan yang dapat diberikan sebuah rumah produksi fotografi karena disadari pasti bahwa kualitas tiap fotografer tidaklah sama. Sebelum memilih seorang fotografer sangat dianjurkan untuk melihat dan membandingkan banyak hasil foto yang dihasilkan sang fotografer, walau dalam emblem rumah produksi fotografi tertentu sudah sewajarnya fokus utama tetap kepada sang fotografer. “Saya memang datang ke rumah produksi fotografi ini atau itu, tapi saya inginkan fotografer dengan nama ini yang hasil karya fotografinya seperti ini yang mengambil semua sesi pemotretan momen pernikahan saya“, inilah cerminan kecerdasan subyek fotografi agar bisa mendapatkan hasil maksimal untuk momen-momen yang ingin di rekam dengan jasa sang fotografer.

pemakzulan lensa

pemakzulan lensa

Ibarat pengantin wanita dan gaun pengantinnya. Karena setiap gaun pengantin adalah unik, dari yang bernuansa kontemporer hingga klasik, dari reka kasual hingga formal, setiap gaun pengantin dibuat khusus berdasarkan pesanan sang pengantin, hampir bisa dipastikan dana yang dikeluarkan untuk eksistensi sebuah gaun pengantin mungkin akan sama besar dengan anggaran yang disediakan untuk memfasilitasi sebuah pesta lagi, dan dapat dikatakan penampilan sang pengantin dan gaun pengantinnya merupakan puncak dari sebuah seremoni pernikahan. Hal ini selalu menjadi tantangan setiap fotografer, bagaimana mengabadikan momen yang sangat-sangat krusial ini ke dalam bingkai sebuah foto, bagaimana mengungkapkan aura pengantin wanita dalam balutan keagungan gaun pengantinnya, bukan hanya sekedar merekam sana-sini selama proses dari kedatangan gaun pengantin tersebut hingga tiap detik perjalanan sang pengantin wanita dalam balutan gaun pengantinnya, karena inti utamanya tetaplah harus terfokus kepada subyek utama yaitu sang pengantin wanita bukan gaun pengantinnya, karena gaun pengantin tetaplah dianggap sebagai pelengkap kesempurnaan sang pengantin, walau tetap ada keharusan mengabadikan gaun pengantin tersebut tapi fokus dari sang fotografer tetaplah bagaimana menangkap dan mengungkapkan aura sang pengantin wanita dalam balutan gaun pengantinnya, dan tidak seharusnya sebaliknya. Hingga hasil akhirnya adalah sebuah fotografi yang mampu merekam aura kesempurnaan dan pancaran kebahagiaan dalam diri sang pengantin wanita, bukan hanya peragaan sebuah maha karya gaun pengantin sebagaimana yang diperagakan para model. Disinilah dituntut kejeniusan dari sang fotografer, mampukan fotografer mengungkapkan tiap detail yang ada tanpa melupakan bahwa subyek dari obyek fotografinya tetaplah sang pengantin, bukan yang lainnya. Bisa saja sang fotografer menangkap subyek-obyek lain yang sangat dekat dengan sang pengantin, tapi harus tetap bisa merekam rona sensasi kebahagiaan yang dipancarkan subyek tersebut dan makna spesial yang dikandung sang obyek.

Sebagai penutup, harapan tiap fotografer mampu mengangkat fotografi sebagai media sebuah seni dimana diharapkan hasil akhirnya adalah sederet foto yang kaya akan makna dan tentunya mampu merekam aura emosional dari subyek. Bukan hanya sekedar permainan lightning atau berlindung dalam pesona background seting lokasi, atau terperangkap dalam sindroma HDR, karena disadari atau tanpa disadari fokus utama dari obyek fotografinya telah bergeser dari fotografi pernikahan menjadi fotografi campur-baur, menjadi fotografi antah-berantah yang miskin kreatifitas, murahan dan terkesan “menipu”. Karena distorsi-distorsi ini telah menjadi semacam penyakit dalam tubuh wedding art photographs.   Detail Hitam Putih Fotografi

Advertisements