Harga Pesta atau Pesta Harga

08Jun09
Sekarang, menyatakan “Saya tidak akan menikah” sama lucunya dengan “Saya tidak akan mati“. Lewat keterlibatan segudang norma dan budaya, menikah kehilangan sisi hak asasinya. Ia jadi kewajiban de facto yang mesti diwujudkan juga diberitakan. Orang-orang jeli yang menangkap fenomena lazim ini lalu memperalat dunia pernikahan hingga masuk ranah industri, atas nama cinta. Di sini, subjek pernikahan jadi konsumennya.
Harga Pesta atau Pesta Harga
Harga Pesta atau Pesta Harga

Ia bisa seharga Rp 500 ribu saja lewat nikah siri, tanpa pesta-atau pesta pribadi yang ‘melelahkan’ di motel kecil. Sementara di The Dharmawangsa Hotel sebuah pesta pernikahan megah menandaskan hingga Rp 15 Milyar tabungan orangtua si pengantin. Kalau saja harga diri dan gengsi bisa lepas dari pernikahan, harga-harga itu justru membuka pilihan.

Sayangnya, harga sebuah pesta pernikahan tidak berbanding lurus dengan ‘pesta yang berharga’. Lima ratus ribu atau lima belas milyar tetap habis dalam waktu kurang dari lima jam. Lagipula, siapa yang bisa menjamin pesta lima belas milyar itu langgeng sampai lima tahun? Juga sebaliknya.

Lepas dari kedua contoh ekstrem itu, pesta pernikahan yang dianggap layak rata-rata menguras Rp 200 juta! Ini bukan remeh-temeh, mengingat jumlah itu bagi sebagian orang mungkin baru terkumpul selama 10 tahun lewat investasi 40% gajinya perbulan dalam suasana bunga 7%, dikutip dari Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution.

Yang pokok, fokus terhadap tujuan akhir yang ingin didapat dari pesta pernikahan itu. Kesan yang terbangun dari pesta pernikahan nantinya akan beragam. Sifatnya subjektif, orang per orang. David akan berpendapat kalau makanan adalah yang terpenting dan Vanny yang mantan pacar mempelai laki-laki membenci semua sudut pesta itu.

Kalau mau jujur, hingga detik ini, pertanyaan seperti: “Berapa harga pesta pernikahan yang layak menurut Anda?” tersangkut di jawaban: “Tergantung”. Sejauh si penjawab tidak langsung melengos pergi, ia akan menjabarkan tentang banyak faktor yang punya andil atas harga. Bombardir itu datang selama proses perencanaan pernikahan. Ini pula yang jadi alasan kenapa banyak calon pengantin mengidap depresi selama merencanakan pernikahan mereka.

Yang Harus Disiapkan

Secara garis besar, persiapan prapernikahan meliputi: legalisasi hukum (termasuk penghulu atau catatan sipil); undangan (terutama jumlahnya); gedung atau lokasi pernikahan (menyesuaikan jumlah undangan dari tema pesta); cincin dan mas kawin; gaun dan jas pengantin; katering; dekorasi; pembawa acara; make-up; fotografer; dan cinderamata – belum termasuk slimming program dan bulan madu. Menyusun semua itu menjadi sebuah paket pernikahan butuh energi tinggi- selain, tentu saja, modal yang memadai.

Di beberapa pesta, bahkan, ada yang menyisipkan satu-dua tambahan lain, seperti: entertainment (band, grand piano, sampai arung jeram), videographer, dan wedding frills (projector, laser beams, sampai sejumlah burung merpati untuk menghiasi suasana pesta). Setiap tambahan satu jenis impian, akhirnya menarik sejumlah uang lagi dari anggaran yang sudah ditentukan. Jika semua faktor bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai, sebaiknya calon mempelai mulai berpikir tentang hukum-hukum ekonomi.

Kenapa Harus Mahal

Karena atas nama cinta. Industri yang mengelola cinta sangat menguntungkan. Ia tak perlu berpikir logis tentang harga-harga yang layak, sebab orang yang jatuh cinta biasanya kehilangan logikanya. Jumlah uang yang harus dikeluarkan tidak menjadi masalah ketika berhadapan dengan pepatah: “Menikah, sekali untuk seumur hidup”.   Harga Pesta atau Pesta Harga



%d bloggers like this: