Konsep Prewedding Urban Pop Culture

12Jun09
Konsep Prewedding Urban Pop Culture

Konsep Prewedding Urban Pop Culture

Kemarin saya baru melihat foto pre-wedding seorang teman. Posenya? Jalan berdua pasangan bergandengan tangan dengan kostum yang seragam: atasan berwarna putih polos berpadu celana jeans dengan tangan menunjuk ke atas serta mata menerawang. “Duh.. Plis deh.. Ini mah basi euy!..” seru saya (tentu dalam hati karena tak ingin menyakiti hati teman yang sedang berbunga-bunga). Fenomena “gaya sejuta umat” ini menyebabkan saya merasa ‘terpanggil’ untuk mengupas berbagai ide-ide foto pre-wedding yang unik dan segar hanya untuk para weddingku-ers!

Sebenarnya tidak ada yang salah sih dengan adegan foto pre-wedding tersebut dan bahkan banyak yang bagus. Namun rata-rata calon pengantin (capeng) tentu tidak ingin foto pre-weddingnya biasa saja atau seragam dengan yang lain. Mungkin banyak capeng yang sering kehabisan ide untuk foto pre-weddingnya dan hanya berpikir ‘yang penting gue punya foto pre-wedding!’ tanpa peduli konsepnya, atau memang di tengah kalang kabutnya persiapan menjelang hari H para capeng jadi terlalu sibuk untuk memikirkan tema. Padahal sebenarnya banyak sekali hal yang bisa digali agar foto mereka terlihat lebih menarik. Nah, untuk membantu para capeng menemukan inspirasi foto pre-weddingnya, di edisi kali ini saya tertarik mengupas gaya yang satu ini: urban pop culture.

Maksudnya, bergaya ala manusia perkotaan dengan nuansa pop. Gaya hidup manusia urban cenderung cuek, apa adanya, dekat dengan keseharian, dan sangat terpengaruh dengan budaya pop di zamannya. Kita bisa coba bergaya ala pop tahun 60-an dengan warna-warnanya yang agak usang plus kaca mata Jackie-O dan kalung beads yang besar-besar dan warna-warni (yang kebetulan sekarang sedang ‘in’!). Atau bisa juga mengadopsi gaya pop tahun 80-an dengan topi softballnya, kemeja yang kerahnya dinaikkan atau kemeja yang ujungnya diikat ala Club Eighties ^_^ Buat kamu yang menyukai gaya vintage, cocok banget tuh!! Untuk gaya pop modern, saya menemukan sebuah foto yang unik dari Fish Photo (atas). Dengan nuansa kehijauan, kedua capeng duduk dengan gaya yang santai dengan latar belakang mobil-mobil bekas. Warnanya yang kontras mengingatkan kita akan foto-foto masa lalu namun tetap memiliki sentuhan masa kini.. Kostum yang dikenakan juga sangat ‘gue banget’.. Hanya kaos dan celana jeans / rok mini.

“Biasanya kita ketemu dan ngobrol-ngobrol dulu dengan klien, membicarakan apa konsep yang diinginkan. Untuk pemotretan kali ini, calon pengantinnya menentukan sendiri bahwa mereka ingin foto di sebuah bengkel. Klien kita ini memang dari advertising, yang biasanya mereka memang sudah punya konsep sendiri. Seperti foto ini (atas) misalnya, mereka nggak mau foto dengan gaya itu-itu saja, mereka mau something yang beda, yang betul-betul mencerminkan keseharian mereka.”, jelas Fish Photo.
Lain lagi dengan pendekatan yang dilakukan Dua Lensa pada foto berikut. Foto bernuansa romantis ini (kiri) membuat kita berkhayal tentang kencan-kencan berdua dengan pasangan di teras rumah berdinding dan lantai batu dengan baju merah jambu. Angle yang diambil juga tidak biasa yaitu dari atas. Fotografer yang satu ini memang selalu berprinsip bahwa foto itu harus fun!

“Kalau foto itu fun, ekspresi akan keluar. Nah, ini dia yang dicari-cari, karena ekspresi wajah capeng adalah detail yang sangat menentukan bagus tidaknya sebuah foto. Gayanya juga dipilih sesuai dengan keseharian mereka. Seperti suatu kali, kita pernah mengambil setting selagi mereka pacaran, mengulang kenangan saat cowoknya nge-date pertama kali ke rumah si cewek dengan membawa bunga.”

Hmm… mengulang kenangan masa lalu.. Boleh juga idenya… Bisa juga dengan memakai suasana masa kuliah waktu pertama kali berkenalan. Seperti pada foto Edward Suhadi berikut (kanan) yang nuansanya simpel dan kampus banget! Meski sebenarnya latar belakang foto ini adalah sebuah sanggar, namun sudut yang diambil berlatar belakang mading membuat mereka

seolah-olah tengah berada di kampus. “Soal ide pemotretan, kita omongin dulu sama klien. Setelah ngobrol-ngobrol, kita kan jadi tau chemistrynya”. Edward menambahkan, “soal tempat, nggak usah yang jauh-jauh, bisa tempat sehari-hari yang biasa kamu kunjungi dengan pacar kamu”.

Lokasi memang bisa menentukan uniknya sebuah foto. Edward mau membuka sedikit rahasianya: “menurut saya, fotografer yang bagus itu selalu mencari tempat yang berbeda-beda dengan fotografer lainnya. Kalaupun mengambil lokasi yang sama, spotnya nggak mesti sama, misalnya jangan di pohon yang itu-itu lagi. Asal tahu aja, di lokasi pemotretan yang populer tuh biasanya udah ada calon-calon pengantin lain yang menunggu. Jadi kita harus pinter-pinter mencari alternatif tempat. Contohnya aja nih, mencari lokasi yang dekat dengan calon pengantinnya, kota kelahiran misalnya. Pernah lho satu kali kita khusus motret ke Jember, karena itu adalah kota kelahiran si pengantin wanita.”

Namun di luar kasus unik seperti itu, gaya ini sebenarnya bisa memangkas budget pernikahan kamu, karena lokasi pemotretan bisa di mana saja. Nggak usah pusing keluarin duit demi menyewa tempat di kafe atau hotel, karena hanya dengan latar belakang yang sederhana atau dekat dengan gaya pacaran kamu -seperti di mobil misalnya, sudah

bisa menjadikan fotomu spektakuler dan yang paling penting –berkesan! Karena pada umumnya yang menentukan kualitas sebuah foto adalah keahlian si fotografer dalam memainkan warna, lighting (pencahayaan) dan angle yang diambil. Suasana sehari-hari juga memungkinkan kamu untuk bergerak bebas dengan gaya ‘suka-suka’ dan mintalah fotografermu untuk memfoto secara candid atau tidak direncanakan. Ekspresi yang spontan dan santai ini sering menjadikan foto ala urban pop ini menjadi humoris dan mengundang senyum siapa pun yang melihatnya.

Saat ini gaya tersebut belum terlalu sering digunakan sebagai tema foto pre-wedding sehingga masih banyak gaya yang bisa dieksplorasi. Bermain-mainlah dengan busana dan aksesori yang akan kalian kenakan saat pemotretan. Pilihlah gaun simpel dengan motif bunga yang nyentrik atau kemeja pas badan motif kotak-kotak ala tahun 70-an (bila pasangan pria mau mengenakannya). Pergilah ke coffee shop atau bahkan warung kopi pinggir jalan di mana kamu dan pasangan pernah duduk bareng lalu mulailah bicara ngalor ngidul dengan santai seperti dulu sementara si fotografer menangkap ekspresi kalian dari kejauhan… Browsing koleksi foto di website. Kumpulkan poster-poster film atau cover CD yang kamu suka dan bayangkan pose kamu dan pasangan di dalam poster tersebut! Misalnya bergaya jadul ala grup musik White Shoes & The Couples Company dengan latar belakang Monas, atau masih banyak lagi gaya spontan lainnya. Seru kan? Selamat bermain-main!

Tips untuk mewujudkan pre-wedding ala urban pop culture yang oke :

  • Jangan takut bereksperimen. Jangan pedulikan pikiran orang lain, yang penting kita harus menikmatinya.
  • Tak perlu menjadi dirimu sendiri 100%, jadilah tokoh favoritmu, namun jangan dipaksakan bila ada yang dirasa kurang sesuai. Ingat, harus ada chemistrynya lho.
  • Kaitkan dengan hobi, misal pakailah sepatu dekil andalan pas sepak bola (untuk pria) atau sepatu bapao yang SD banget itu (untuk wanita)!
  • Pakai perhiasan yang sedang ‘in’ misalnya: kalung tumpuk dan gelang tumpuk.
  • Scarf nyokap yang jadul banget itu, dililitin di leher dan taraaaa… jadi gaya deh ^^
  • Minta fotografermu mengambil dari angle yang tidak biasa
  • Enjoy!

Sumber : weddingku.com



%d bloggers like this: