Desaigner : Tribute to Chenny Chan

03Jun09
Desaigner : Tribute to Chenny Chan

Desaigner : Tribute to Chenny Chan

Lahir di Jakarta 3 Juli 1963. Anak tunggal di keluarganya ini gemar mendandani rumahnya. Dalam setahun bisa delapan kali ia mengganti interior rumah, dari sekadar mengubah posisi perabotan hingga bongkar pasang tata letak ruangan dan mengganti cat dinding. Mungkin, karena anak tunggal, ia tak perlu banyak pertimbangan untuk menyalurkan habinya itu.

Namun, untuk urusan karir, ia memiliki keteguhan hati, meski awalnya, di tahun 80 an, ia berangkat dari menjadi pembuat kue pengantin hingga setahun kemudian menjadi perias pengantin. Tahun 1992, sepulangnya dari Los Angelas, setelah enam tahun bermukim di sana, ia terjun ke bidang gaun pengantin. Waktu itu sebenarnya ia hanya ingin mengembangkan karirnya di bidang rias wajah, sesuai dengan bidang yang ditekuninya sejak tahun 1982 setelah mengikuti kursus di Pivot Point dan Martha Tilaar serta belajar dari perias-perias artis Hollywood saat ia barada di Los Angeles. Namun, sejalan dengan itu, satu pilihan lain terbuka, yaitu berkreasi di bidang gaun pengantin.

Kini ia memiliki koleksi lebih dari tiga ratus gaun pengantin, tidak termasuk koleksinya yang telah menjadi milik sang pengantin. Ia juga dikenal kreatif dalam mengembangkan karirnya. Tak heran bila lahir sejumlah karya unik menarik darui tangannya seperti miniatur gaun pengantin yang dikenakan boneka Barbie, gaun pengantiin berlampu, dan juga gaun pengantin kertas yang dinilai berbagai kalangan merupakan karya yang spektakuler. Tahun 2000, ia berkolaborasi dengan Obin menciptakan gaun pengantin dari batik white on white.

Chenny Chan seorang pekerja keras yang tak hanya duduk di belakang meja mengatur segalanya. Sehari-hari, ia berputar dari ruang jahit ke ruang payet untuk mengawasi para pekerjanya agar hasil mereka maksimal. Ia juga tak segan-segan membeli sendiri ragam kain, lace, dan segala pernak-pernik sampai benua Eropa, dari Perancis sampai Italia.

Sebagai perancang busana, Chenny Chan selalu penuh dengan ide-ide inovatif. Setelah sebelumnya menciptakan gaun pengantin menggunakan kertas, kristal-kristal dari Eropa, batik white on white, serta gaun pengantin tiga dimensi, Chenny Chan kembali membuat gebrakan dalam dunia bridal. Masih dengan pembuatan detail hiasan yang menawan, kali ini perempuan berusia 45 tahun tersebut menggunakan teknik laser cut untuk koleksi gaun pengantin terbarunya.

Dalam mini show yang digelarnya di Hotel Mulia Jakarta 19 Februari lalu, Chenny menciptakan beberapa ornamen penghias gaun pengantin yang sangat eksklusif menggunakan teknik laser cut. Hiasan gaun berupa surai-surai, ratusan bunga sutera, kupu-kupu hingga barisan komet berekor ukuran mini yang artistis terlihat sangat indah dan rapih dalam pengerjaan sentuhan akhirnya. Ide ini muncul ketika ia merasa kurang puas pada gaun pengantin berpenampilan unfinished style hasil rancangannya. Meskipun busana itu cukup artistik, sisa benang halus yang memang sengaja tidak dijahit ternyata mengganggu perempuan yang mengenakannya. Ia sempat bereksperimen dengan beberapa alat, hingga akhirnya perempuan kelahiran Jakarta ini berhasil mendapatkan alat pemotong kain berteknologi laser yang memungkinkannya berkreasi secara optimal.

Pertemuan yang tak sengaja dengan seorang pemilik perusahaan Laser Cutting,Clara Wijaya, membuatnya jatuh hati pada teknik laser. Ia pun langsung menggaet pengusaha berusia 27 tahun tersebut untuk bekerjasama mewujudkan ide-ide kreatifnya. Dan, hanya dalam kurun waktu tiga minggu mereka berhasil menyelesaikan 12 gaun pengantin cantik untuk ditampilkan dalam pagelaran bertemakan Laser Me Beautiful.

Chenny Chan mengungkapkan, teknik potong laser menghasilkan ornamen-ornamen yang jauh lebih rapih, mengurangi pemborosan kain serta memiliki akurasi ukuran yang sangat presisi dan konsisten. Hal ini mungkin mustahil dilakukan bila menggunakan cara manual.

Pernyataan senada juga dilontarkan Clara. Menurut lulusan Teknik Komputer Universitas Purdne Amerika Serikat ini, menggunakan mesin berteknologi mikrofiber laser cut jauh lebih cepat daripada memotong dengan gunting biasa. Jika mengandalkan alat pemotong gunting biasa, bisa menghabiskan waktu hingga satu jam. Sedangkan dengan teknik laser cut hanya memerlukan waktu satu menit dengan tingkat kesalahan 0.01 milimeter.

Seperti diketahui, teknik potong laser dikenal sebagai teknik memotong benda dengan menggunakan sinar laser. Namun, dengan ide kreatifnya, Chenny memanfaatkan teknik laser-cutting untuk membuat detail hiasan yang rumit pada koleksi gaun pengantin rancangannya. karenanya, tidak terlalu berlebihan jika Chenny Chan disebut sebagai salah satu desainer busana Indonesia yang menggunakan teknik laser.

Sumber : various



%d bloggers like this: