Kita Butuh Orang Lain untuk Menikah

08Jun09
Kita Butuh Orang Lain untuk Menikah

Kita Butuh Orang Lain untuk Menikah

Menginjak era 80-an, pesta bergaya internasional kerap diselenggarakan akibat perkawinan campuran, tuntutan agama, dan akulturasi budaya Eropa di Indonesia. Hingga awal 90-an penyelenggaraan pesta semacam ini kebanyakan ditangani oleh keluarga dan kerabat calon mempelai. Barulah di akhir abad ke-20 badan khusus bernama wedding organizer menjamur di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta. Kini, Wedding Organizer (WO) berubah menjadi bisnis besar dengan prospek yang cerah.

Faktanya, konsumen mengeluarkan dana hingga 33 miliar dolar Amerika tiap tahunnya-setidaknya ini yang tercatat di The Association of Bridal Consultants, Amerika – menanggapi geliat bisnis pernikahan di sana. Saat ini, calon pengantin mengeluarkan lebih banyak uang untuk hari pernikahan mereka ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Masih dari asosiasi yang sama, informasi kenaikan biaya pernikahan antartahun berkisar antara 8-20%.

Di Indonesia, lahirnya WO dan badan-badan bisnis serupa adalah bukti bahwa pernikahan jadi ladang bisnis berskala besar. Sedikitnya ada 500-an nama dagang yang membidangi bisnis ini di Jakarta. Itu termasuk WO yang merangkap rias pengantin dan jasa katering serta multitasks WO, seperti PT Saji Indonesia yang dikelola Charles Bonar Sirait. Walau bukan data valid, tapi WO directory ini cukup menggambarkan apa yang terjadi di dunia pernikahan kita.

Awalnya, ada perbedaan pengertian antara wedding consultant, wedding planner, wedding director, dan wedding organizer. Ini seperti urut-urutan hierarki; konsultan menyusun konsep dasar yang layak dengan beragam pertimbangan. Kemudian, planner yang merencanakan semuanya-termasuk anggaran dan desain konsep. Dari sini, wedding director mengepalai pelaksanaan lapangan, sementara wedding organizer mencakup hampir semua tugas dan kewajiban di atas hingga pesta pernikahan berjalan lancar. Tapi, sejalan dengan kebutuhan, golongan-golongan itu tinggal predikat. Akhirnya, mereka bisa bertukar tugas atau rangkap-merangkap dalam kesatuan yang kompak.

Mengenai biaya sewa WO, Kicky Alexander dari Bride and Groom Wedding Organizer mengungkapkan adanya dua standar: berdasarkan prosentase total biaya pesta dan berdasarkan harga tetap yang ditentukan sebelumnya. Rosa di Violet The Organizer menambahkan, penetapan harga WO juga tergantung pada lokasi, tingkat kesulitan, dan nama WO-nya.

Ada beberapa WO menerima tugas jika pesta yang diselenggarakan sesuai dengan kriteria yang mereka tentukan. Satu di antaranya, kalau pesta pernikahan itu menelan biaya minimal Rp500 juta. Yang lain, tidak mempermasalahkan biaya pesta, seperti Violet The Organizer yang pernah mengorganisasi pesta pernikahan beranggaran Rp50 juta sampai miliaran rupiah.

Menurut Emil dari MKE Wedding Organizer, WO adalah jembatan yang bisa mewujudkan pesta pernikahan. Itu sebabnya ia ditugasi untuk menjembatani komunikasi antara calon pengantin dan banyak pihak terkait. WO punya alasan kuat menjadi pilihan utama bagi para calon pengantin, yaitu karena mereka mampu memangkas energi pada tingkat efisiensi yang sempurna. Lebih penting lagi, WO mampu menjadikan pesta kita tetap pada jalur dana yang tersedia.

Sumber : area



%d bloggers like this: