Revolusi Bridal Fotografi

04Jun09
Revolusi Bridal Fotografi

Revolusi Bridal Fotografi

PADA kulminasinya, suatu karya seni akan mengalami kejenuhan. Pada titik jenuh itulah, sang kreator akan menciptakan hal-hal baru. Dalam lukisan, misalnya. Ketika naturalisme membosankan, muncul ekspresionisme. Ketika ekspresionisme juga membosankan, muncul karya-karya baru yang lebih abstrak hasil paduan antara naturalisme dan ekspresionisme.

Begitu juga yang terjadi pada Wedding Photography (foto pernikahan). Sebagai bagian dari seni foto, Wedding Photography Bridal telah mengalami perjalanan proses kreatif yang sangat panjang. Bila pada awalnya para fotografer pernikahan hanya membuat karya-karya foto “on the spot” saat hari pernikahan berlangsung, sejalan dengan proses kreatif mereka dalam melakukan pencarian, muncul seni fotografi pernikahan yang disebut prewedding. Lihat Wedding Photography Unique dan Wedding Photography Bridal.

Prewedding dibuat lebih sebagai improvisasi profesional dari kejenuhan Wedding Photography biasa. Prosesnya, berlangsung out door maupun in door. Pelaku yang terlibat di dalamnya membuat konsep-konsep tertentu di lokasi tertentu sehingga hasilnya pun menjadi sebuah karya seni foto yang memadukan banyak unsur. Mulai dari teknik foto itu sendiri, wardrobe, maupun make up sehingga foto pernikahan ini menjadi lebih “berbicara” dari foto pernikahan sebelumnya.

Menurutnya, dunia fotografi terbagi dua, fotografi industri dan ekspresi. Fotografi industri adalah fotografi yang dibuat untuk mengikuti selera pasar, sedangkan fotografi ekspresi adalah foto yang dibuat lebih berdasarkan pada eksplorasi-eksplorasi seni fotografi. Photo story berada di antara keduanya. Artinya, di satu sisi tetap mengikuti selera pasar, tetapi di sisi lain juga tetap memberikan sentuhan-sentuhan seni baru hasil eksplorasi terhadap karya seni sebelumnya. See Wedding Photography Unique dan Photography Bridal.

“Saya termasuk orang yang bergerak di antara keduanya itu (Photography Bridal). Saya tidak mau hanya mengikuti pasar tanpa memberikan wawasan dan selera foto yang lebih baik kepada masyarakat. Akan tetapi, karena saya pun pelaku bisnis, bagaimana caranya menciptakan karya yang berada di antara keduanya,” ujar Dodi. Menyinggung wawasan dan selera masyarakat terhadap foto-foto pernikahan, Dodi menilai, sudah semakin maju.

Masyarakat sudah menyukai karya-karya yang tidak asal cantik, mewah, lalu jepret. Akan tetapi, masyarakat sudah menginginkan adanya “sesuatu” di balik foto. Dan “sesuatu” itu, kata Dodi, bisa berupa teknik dan seni foto terbaik maupun pesan yang disampaikan foto.

Sumber : eriyanti-pikiranrakyat



%d bloggers like this: