Hajatan Pernikahan Dalam Penanggalan Jawa

09Jan12

Agama dan budaya memaknai pernikahan sebagai suatu bagian penting dari perjalan hidup seseorang, pernikahan yang telah di-ulas sebelumnya sebagai sebuah ritual yang penuh dengan kesakralan. Sebagaimana umumnya harapan tiap manusia, tiap pasangan manusia, tiap keluarga dari pasangan manusia tersebut bahwa pernikahan akan membawa kebahagiaan dan ketenteraman bagi pasangan yang melangsungkan pernikahan, keluarga, masyarakat dan lingkungan pada umum-nya. Harapan-harapan inilah yang kemudian melahirkan rutinitas ritual budaya yang dimaksudkan untuk mendukung niat kebaikan dan kebahagiaan yang ingin diraih dari pernikahan, termasuk dalam menentukan saat-saat yang dipercaya baik untuk melangsungkan hajatan pernikahan berdasar budaya Jawa.

Hajatan Pernikahan Dalam Penanggalan Jawa

Hajatan Pernikahan Dalam Penanggalan Jawa

Dari bulan yang ada dalam penanggalan Jawa juga dikenal adanya bulan yang dianggap baik dan yang dianggap kurang baik untuk melaksanakan hajatan pernikahan. Di-antara bulan-bulan tersebut perlu di-garis-bawah-i bahwa bulan Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah dan Besar jika terdapat hari Selasa Kliwon maka akan sangat baik untuk melaksanakan pernikahan. Jika pada bulan-bulan tersebut ter-dapat hari Jumat Kliwon maka juga sangat baik untuk melakukan hajatan pernikahan. Akan tetapi jika pada bulan-bulan tersebut tidak terdapat hari Selasa Kliwon maka Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah dan Besar itu termasuk saat yang kurang baik untuk melaksanakan hajatan pernikahan. Jikalau sangat terpaksa maka hajatan tersebut bisa dilaksanakan pada bulan pengganti, seperti bulan Sapar, Rabiul Awal, Jumadil Awal maupun bulan Syawal. Hal itu boleh di-laksana-kan dengan syarat pada bulan-bulan pengganti tersebut terdapat hari Selasa Kliwon atau hari Jumat Kliwon.

Adapun bulan-bulan yang dianggap baik dan kurang baik untuk melaksanakan hajatan pernikahan bedasar penanggalan Jawa, antara lain :

  1. SURA; merunut kepercayaan Jawa pada bulan Sura sebaiknya tidak melakukan hajatan apapun termasuk hajatan pernikahan. Jika tetap melaksanakan hajatan pernikahan di bulan Sura di-khawatirkan akan mengalami kesukaran hidup dan rumah tangga-nya akan banyak terjadi pertengkaran.
  2. SAPAR; melakukan hajatan pernikahan pada bulan Sapar sebenarnya boleh-boleh saja, namun efek yang ditakutkan adalah dalam kehidupan rumah-tangga nya akan memiliki banyak hutang dan serba kekurangan.
  3. RABIUL AWAL; tidak dianjurkan untuk melaksanakan hajatan pernikahan pada bulan Rabiul Awal, karena ditakutkan dalam kehidupan rumah-tangga salah satunya akan meninggal. Jadi, hindari melaksanakan hajatan pernikahan di bulan Rabiul Awal bila ingin menghindari malapetaka.
  4. RABIUL AKHIR; di-per-boleh-kan melaksanakan hajatan pernikahan pada bulan Rabiul Akhir, tetapi harus siap kalau rumah-tangganya mendapat cacimaki dan dipergunjingkan oleh orang lain.
  5. JUMADIL AWAL; pada bulan Jumadil Awal boleh melaksanakan hajatan pernikahan, tetapi dengan resiko dalam kehidupan rumah-tangganya memiliki banyak musuh, mengalami banyak kehilangan dan seringkali tertipu oleh orang lain.
  6. JUMADIL AKHIR; melaksanakan hajatan pernikahan pada bulan Jumadil Akhir dipercaya dapat membawa keberuntungan karena pasangan suami-istri akan memiliki kekayaan yang melimpah-ruah.
  7. RAJAB; bulan Rajab juga sangat baik untuk melangsungkan hajatan pernikahan sebab dipercaya dapat membawa keberkahan, keselamatan dan akan memiliki banyak anak.
  8. RUWAH; bulan Ruwah juga dipercaya sebagai bulan yang baik untuk melaksanakan hajatan pernikahan sebab pasangan suami-istri yang melangsungkan pernikahan pada bulan ini akan mendapatkan keselamatan dan kedamaian dalam rumah-tangganya.
  9. PUASA; bulan Puasa dipercaya sebagai bulan yang kurang baik untuk melangsungkan hajatan pernikahan karena dikhawatirkan pasangan yang menikah pada bulan ini akan mengalami banyak musibah dalam hidupnya.
  10. SYAWAL; bulan Syawal juga dipercaya sebagai bulan yang kurang baik untuk melaksanakan hajatan pernikahan sebab pasangan yang menikah pada bulan ini akan mengalami kekurangan dan banyak hutang.
  11. ZULKAIDAH; bulan Zulkaidah juga termasuk dalam bulan-bulan yang kurang baik untuk melangsungkan hajatan pernikahan karena ditakutkan pasangan yang menikah pada bulan ini akan sering mengalami sakit dan cenderung untuk memiliki banyak musuh karena sering bertengkar dengan orang lain.
  12. BESAR; bulan Besar dipercaya sebagai bulan yang baik untuk melangsungkan hajatan pernikahan sebab pasangan yang menikah pada bulan ini akan mem-peroleh banyak rezeki dan mendapatkan banyak kebahagiaan dalam rumah-tangganya.

Demikianlah, percaya tidak percaya kita tetap harus taat pada hukum-hukum alam. Bagaimana alam ini di-cipta-kan dan di-atur seharusnya membuka kesadaran bahwa tidak ada se-suatu yang kebetulan di alam-raya ini. Nilai-nilai yang kemudian ada dan berkembang sebagai aktivitas pola gerak budaya yang di-legal-kan sesuai dengan apa yang disebut sebagai ketentuan syariat langit dan kitab-kitab suci menempatkan pernikahan sebagai sebuah “fenomena suci”, di-mana pelaksanaan-nya haruslah di-iringi dengan beberapa ketetapan ritual. Aktivitas ritual ini yang kemudian lebih di-kenal dengan sebutan kearifan lokal. Kearifan lokal ini ada dan berkembang sebagai bentuk harapan-harapan positip yang di-ingin-kan lahir melalui sebuah pernikahan, hajatan pernikahan, dan kemudian pula budaya menetapkan ritual-ritual tertentu untuk hajatan pernikahan dan tentu saja termasuk di-dalam-nya tentang menentukan saat-saat yang dianjurkan untuk melaksanakan hajatan pernikahan ber-dasar-kan penanggalan Jawa.   Hajatan Pernikahan Dalam Penanggalan Jawa

About these ads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 341 other followers