Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

20Jun09
Tak banyak desainer yang mengkhususkan diri pada kebaya. Dan di antara yang sedikit itu, nama Anne Avantie demikian lekat dengan kebaya, khususnya kebaya moderen.
Setelah hampir 20 tahun berkarya dalam dunia fesyen, Kamis (19/4) malam lalu Anne menggelar show tunggal pertamanya di Jakarta. Mengambil judul yang sama dengan buku yang baru saja diluncurkannya, “Aku, Anugerah & Kebaya,” pergelaran itu terasa istimewa karena didukung oleh elemen seni yang kental nuansa etnik, sesuai nafas kebaya.
Pergelaran koleksi kebaya Anne Avantie tersebut mengusung nyawa Anne Avantie sebagai wanita Jawa, antara lain terlihat dari dekorasi ruangan, hidangan dan minuman khas etnik Jawa, hingga tata musik yang kental nafas tradisional.
Keseluruhan segmen demi segmen yang ditata oleh Rama Soeprapto sebagai art director dan Ananta Kanapi sebagai penata gerak, berhasil mengungkapkan filosofi Anne terhadap kebaya. Bagi Anne, kebaya bukanlah semata busana melainkan juga roh yang memiliki kekuatan.
Kesan gemerlap
Dalam pergelarannya kali ini, Anne menampilkan rangkaian koleksi yang memperlihatkan dengan jelas metamorfosa kebaya dari jaman ke jaman. Pada sekuen pertama, ditampilkan tujuh model kebaya asli Indonesia yang dibawakan oleh tujuh Putri Indonesia.
“Kebaya yang dibawakan oleh Putri Indonesia itu adalah kebaya klasik tanpa sentuhan Anne Avantie. Ini untuk menggambarkan kebaya Indonesia yang asli, demikian pula dengan kain yang dipakai,” kata Anne.
Setelah itu satu persatu model membawakan modifikasi kebaya rancangan Anne. Tanpa harus lari dari nyawa aslinya, kebaya moderen tampil lebih atraktif, imajinatif dan anggun. Serangkaian kebaya yang ditampilkan juga sarat dengan detail. Penggunaan payet, sulam dan manik memberikan kesan gemerlap.
Sementara itu garis potong yang tidak biasa seperti asimetri, serta penggunaan bahan brokat, tile, bahkan padanan kain batik yang dibuat menjadi rok berekor panjang, memberi kesan berbeda dengan kebaya tradisional.
Selain para model, kebaya Anne juga diperagakan oleh artis-artis dari beberapa generasi. Mulai dari Marini, Roy Marten, Alex Komang, Ratna Dumillah, Luna Maya, hingga Dominique. Tiga model asal Malaysia juga ikut serta, yakni Tengku Azura, Fadzlun Abas dan Suzana Abu.
Beda konsep
Menurut Anne, kebaya rancangannya memang berbeda dengan kebaya klasik, karenanya ia enggan jika orang lain membandingkan. “Konsepnya sudah berbeda, jadi jangan dibandingkan,” tandasnya. Senada dengan Anne, desainer Musa Widinto berpendapat apa yang dilakukan Anne memang mendobrak pakem, tetapi tidak merusak tradisi.
Anne tampaknya begitu memahami keinginan yang ada dalam diri setiap perempuan untuk tampil anggun. Hampir seluruh koleksinya menonjolkan siluet feminin dengan potongan yang ketat memeluk tubuh. Meski banyak rancangannya memakai potongan dada dan punggung yang terbuka, namun nuansa anggun terasa mendominasi. Koleksi yang ditampilkannya memang memukau sekitar 1000 tamu yang malam itu memenuhi ballroom Hotel Mulia, Jakarta.
Puncak kreatifitas Anne hadir dalam kebaya bludru dengan sentuhan benang emas di tepi (gim) yang menutup pergelaran malam itu. Diakui oleh Anne, kebaya ini memang ia dedikasikan untuk para pembuat kebaya gim. “Saya ingin kebaya gim booming kembali,” ujar Anne yang merasa prihatin dengan nasib pembuat kebaya gim.
Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang mode, nyatanya sebagai perancang Anne bukan saja berhasil mensejajarkan dirinya dalam deretan perancang ternama Indonesia. Bahkan beberapa tahun terakhir, koleksi kebaya rancangannya selalu menjadi andalan Putri Indonesia saat bertarung di ajang Miss Universe.
“Semua ini saya anggap sebagai mukjizat. Bagi saya semua ini terjadi karena kekuatan spiritual dari Tuhan. Kebaya adalah jalan yang selalu ada dalam hidup saya,” katanya mengungkapkan kecintaannya pada kebaya.
Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

Tak banyak desainer yang mengkhususkan diri pada kebaya. Dan di antara yang sedikit itu, nama Anne Avantie demikian lekat dengan kebaya, khususnya kebaya moderen.

Setelah hampir 20 tahun berkarya dalam dunia fesyen, Kamis (19/4) malam lalu Anne menggelar show tunggal pertamanya di Jakarta. Mengambil judul yang sama dengan buku yang baru saja diluncurkannya, “Aku, Anugerah & Kebaya,” pergelaran itu terasa istimewa karena didukung oleh elemen seni yang kental nuansa etnik, sesuai nafas kebaya.

Pergelaran koleksi kebaya Anne Avantie tersebut mengusung nyawa Anne Avantie sebagai wanita Jawa, antara lain terlihat dari dekorasi ruangan, hidangan dan minuman khas etnik Jawa, hingga tata musik yang kental nafas tradisional.

Keseluruhan segmen demi segmen yang ditata oleh Rama Soeprapto sebagai art director dan Ananta Kanapi sebagai penata gerak, berhasil mengungkapkan filosofi Anne terhadap kebaya. Bagi Anne, kebaya bukanlah semata busana melainkan juga roh yang memiliki kekuatan.

Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

Kesan gemerlap

Dalam pergelarannya kali ini, Anne menampilkan rangkaian koleksi yang memperlihatkan dengan jelas metamorfosa kebaya dari jaman ke jaman. Pada sekuen pertama, ditampilkan tujuh model kebaya asli Indonesia yang dibawakan oleh tujuh Putri Indonesia.

“Kebaya yang dibawakan oleh Putri Indonesia itu adalah kebaya klasik tanpa sentuhan Anne Avantie. Ini untuk menggambarkan kebaya Indonesia yang asli, demikian pula dengan kain yang dipakai,” kata Anne.

Setelah itu satu persatu model membawakan modifikasi kebaya rancangan Anne. Tanpa harus lari dari nyawa aslinya, kebaya moderen tampil lebih atraktif, imajinatif dan anggun. Serangkaian kebaya yang ditampilkan juga sarat dengan detail. Penggunaan payet, sulam dan manik memberikan kesan gemerlap.

Sementara itu garis potong yang tidak biasa seperti asimetri, serta penggunaan bahan brokat, tile, bahkan padanan kain batik yang dibuat menjadi rok berekor panjang, memberi kesan berbeda dengan kebaya tradisional.

Selain para model, kebaya Anne juga diperagakan oleh artis-artis dari beberapa generasi. Mulai dari Marini, Roy Marten, Alex Komang, Ratna Dumillah, Luna Maya, hingga Dominique. Tiga model asal Malaysia juga ikut serta, yakni Tengku Azura, Fadzlun Abas dan Suzana Abu.

Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

Kebaya yang Bernyawa dari Anne Avantie

Beda konsep

Menurut Anne, kebaya rancangannya memang berbeda dengan kebaya klasik, karenanya ia enggan jika orang lain membandingkan. “Konsepnya sudah berbeda, jadi jangan dibandingkan,” tandasnya. Senada dengan Anne, desainer Musa Widinto berpendapat apa yang dilakukan Anne memang mendobrak pakem, tetapi tidak merusak tradisi.

Anne tampaknya begitu memahami keinginan yang ada dalam diri setiap perempuan untuk tampil anggun. Hampir seluruh koleksinya menonjolkan siluet feminin dengan potongan yang ketat memeluk tubuh. Meski banyak rancangannya memakai potongan dada dan punggung yang terbuka, namun nuansa anggun terasa mendominasi. Koleksi yang ditampilkannya memang memukau sekitar 1000 tamu yang malam itu memenuhi ballroom Hotel Mulia, Jakarta.

Puncak kreatifitas Anne hadir dalam kebaya bludru dengan sentuhan benang emas di tepi (gim) yang menutup pergelaran malam itu. Diakui oleh Anne, kebaya ini memang ia dedikasikan untuk para pembuat kebaya gim. “Saya ingin kebaya gim booming kembali,” ujar Anne yang merasa prihatin dengan nasib pembuat kebaya gim.

Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang mode, nyatanya sebagai perancang Anne bukan saja berhasil mensejajarkan dirinya dalam deretan perancang ternama Indonesia. Bahkan beberapa tahun terakhir, koleksi kebaya rancangannya selalu menjadi andalan Putri Indonesia saat bertarung di ajang Miss Universe.

“Semua ini saya anggap sebagai mukjizat. Bagi saya semua ini terjadi karena kekuatan spiritual dari Tuhan. Kebaya adalah jalan yang selalu ada dalam hidup saya,” katanya mengungkapkan kecintaannya pada kebaya.

Sumber : kompas.com

About these ads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 345 other followers

%d bloggers like this: